Hati. Bicara. Jujur. Mungkin. Dia. Lelah.

SDC10624

 

 

 

 

 

 

 

 

Diam saja kadang tidak cukup.
Untuk mengungkap sesuatu yang kita percaya dapat mengubah kenyataan, butuh keberanian dan tekad bulat, keluar dari zona nyaman dan siap menanggung akibat.
Tapi saat kita bermain dengan kebahagiaan orang lain, apakah kompromi memang jalan satu2nya? Kenapa? Kenapa harus ada pengorbanan? Kenapa juga orang lain yang harus bahagia?

Saya tidak percaya dengan sad ending.
Untuk semua orang.
Jika saya bahagia, dia juga pasti bisa bahagia.
Dia juga pasti bisa bahagia.
Dengan dan tanpa saya.

6 thoughts on “Hati. Bicara. Jujur. Mungkin. Dia. Lelah.

  1. delonelybie says:

    mba yessi…
    salam kenal ya… šŸ™‚
    nice words, kata-kata mba ini benar banget…membuat saya terinspirasi lagi dengan sosok Om Mario Teguh…kebahagian(pribadi) tidak berada pada orang lain, melainkan diri sendirilah yang memiliki kebahagiaan itu sendiri.
    maaf kalau salah comment-nya.. :mrgreen:

  2. slams says:

    hmmmm….
    bahagia? orang lain?
    cukup aja lah, aku tulis dulu ah daftar kebahagiaanku hehehehe biar nanti semua ikut bahagia juga..

  3. acilo says:

    kompromi bukan satu2nya jalan agar bisa bahagia. seperti pepatah mengatakan, ada 1000 jalan ke roma. namun pengorbanan pasti dibutuhkan, dan juga menerima kondisi setelah kita berkorban.

  4. Saya (juga) tidak percaya dengan sad ending. Untuk semua orang.
    Karena pada dasarnya bahagia atau tidak, kita sendirilah yg menentukan.

    šŸ™‚

  5. @ All : bener kata Wulan. Kita yang nentuin, kita yang pilih, sesuai jalan yang kita mau. Apakah jalan yang sama menuju Roma, apakah jalan yang berbeda, trus ketemuan di Roma. Ya kan Cil? šŸ˜‰

  6. kikis says:

    Tapi ada kalanya kita berpikir panjang..sebelum menjadai bagian dari kebahagiaan orang lain..agar kita tidak mngecewakannya ketika kita melepas ikatan kebahagiaan itu

Leave a Reply to Wulan Aquariyanti Cancel reply