Money Monkey

Seorang teman bertanya, “Kenapa lo nggak minta ditempatin di Indonesia aja? Lo kan belom pernah hidup di LN, jauh dari keluarga dan akhirnya lo nggak akan bahagia, segede apapun gaji lo”. Saya senyum2 saja, bersahaja. “U don’t tell others what makes them happy“, hati saya yang menjawab.

Well, week end ini adalah akhir minggu pertama saya sesudah “mencicipi” bekerja selama seminggu. Dulu kalau lagi libur, bisa jalan2 sama pacar, sama adik, atau sama temen-temen. Sekarang beda sekali : week end tetap dinanti, tapi saya nggak bisa menghabiskan waktu bersama mereka. Pengorbanan kah ini namanya? Apakah ini maksud teman saya tadi?

Hei, apa yang salah dengan takdir?

Perkataan teman saya memang ada benarnya. Tapi, yuk kita bandingkan dengan kondisi kalo kita kerja di Indonesia, misalnya. Harus berangkat pagi2 banget dan pulang sesudah jam kantor supaya nggak kena macet. Seandainya saya ditempatkan di Jakarta juga mungkin saya akan menjadi bagian orang2 yang bergumul dengan kemacetan Ibukota. Habis kerja, badan capek. Besok bangun, kerja lagi. Kapan waktu buat orang2 yang dikasihi?

Well, berhentilah menganggap diri kita kuli. Kita nggak direkrut dan digaji dari apa yang kita keluhkan setiap hari. Kita nggak seperti monyet yang lantas akan kegirangan jika dikasih pisang dan berharap pisang itulah satu-satunya hal yang bisa buat bahagia. Kita bukan monyet. Yang riang gembira disaat jam pulang udah tiba dan berbenah karena sudah waktunya pulang, seolah2 pulang akan mengakhiri penderitaan hari itu dan besok menderita lagi, diakhiri dengan pulang lagi. Ini bukan dedikasi. Bukankah seharusnya kerja adalah ibadah?

LoveMoney Kalau pake kacamata personal, saya memang butuh materi. Tapi saya nggak menganggap diri saya kuli karena materi. Saya menikmati dimarahi sama Bos, itu membuat saya nggak melakukan kesalahan lagi. Saya menikmati harus berjalan kaki selama 20 menit kekantor, itu membuat kaki saya kuat. Saya menikmati semua keteraturan yang tampak tidak berkompromi, itu membuat saya disiplin. Masalahnya adalah bukan pada dimana kita bekerja, apakah di LN atau di negeri sendiri, but how we can cope with environment and encourage our self to enjoy every single thing-every little part of our time. That to be happy or not is a choice.. Disini saya bisa berteman dengan orang2 baru. Darisini saya bisa dengan mudah menyeberang ke Medan–tempat orangtua saya. Jadi, tampaknya saya masih akan betah duduk di meja saya. I love my job! I love my boss! 🙂

So, kapankah kita akan berhenti menganggap hambatan2 dalam hidup kita sebagai hal buruk? Yuk koreksi diri masing2 🙂

4 thoughts on “Money Monkey

  1. yudit says:

    nice…
    your strong girl…
    i know this is the best thing that you’ve choose on your live.
    then enjoy it.
    don’t complain.
    hahaha

    ***ngiri gue.. gue belom bisa mencapai tahap yang seperti echi rasakan***

  2. Like your thought! 😉

  3. @ Yudit : Gombal.com deh lo Dit..ahhaha!
    Nggak di YM, di blog, sama juga kata2nya. Thanks anyway 🙂

    @ Wulan : Terimakasih, Ulan! Minta oleh2 donc dari Korea, hehehe

  4. dan yang nggak bisa dibeli oleh uang berapapun, adalah pengalaman Echi selama disana. Nggak hanya etos kerja, tapi juga beragam orang yang akan memberikan beragam warna buat hidup. ya kan ?

Leave a Reply to yudit Cancel reply