New Nest : Queenstown.

Mencari tempat tinggal di Singapore itu gampang-gampang susah. Masih ingat rasanya dulu, pertama kali saya mencari HDB room, viewing HDB, menemukan cerita berbeda2, hingga akhirnya memutuskan untuk memilih Segitiga Cinta–alias Block 20 Telok Blangah Crescent–Mount Faber View.

Kali ini, sesudah menyelesaikan rotasi saya di Vietnam, saya kembali ke Singapore dan tentu saja : harus cari tempat tinggal lagi. Target kali ini masih sama : cari HDB room saja, untuk saya seorang. Berhubung suami masih akan berada di Jakarta hingga nanti kami hidup bersama. Saya sendiri sudah menurunkan ekspektasi/ kriteria HDB yang saya tempati, berhubung saat itu kondisinya adalah : saya sudah tiba di Singapore, tapi masih stay di hotel (yang alamak, mahalnyo!, sehingga memutuskan buat tinggal sementara di apartemennya Leidya), perlu cepat balik ke Indonesia untuk persiapan akad nikah, sementara shipment barang2 dari Vietnam sudah nyampe di Singapore tapi nggak bisa dikirimkan ke saya karena saya belum punya alamat tetap alias tempt tinggal. Hahahaha, once in a lifetime saya merasa seperti gelandangan! :p

Cari punya cari dari sekitar 24 kamar HDB yang saya viewing, inilah rangkuman 3 HDB paling lucu kali ini :

HDB 1. Holland Village. SGD 750/month, stay with Single Chinese Owner Lady.

Bersama Becky, sesudah viewing kamar dll saya langsung merasa sreg dan bersedia untuk bayar saat itu juga. Tapi katanya masih ada yang mau viewing lagi, sehingga dia bilang keesokan harinya baru bisa konfirmasi. Saya iyakan saja, toh nggak ada ruginya nunggu 1 hari lagi. Keesokan harinya, dia beneran hubungi saya, tapi pertanyaannya lucu. Beginilah kira2 percakapannya :

“Hi Yessi, I forgot to ask what is your religion. Do you eat pork?”

“No, I dont eat pork”

“I am concerned because I eat pork”.

“It’s not a problem for me, I’m very moderate”.

“Really? But I’m concerned. And do you pray? Will you make noise when you pray?”.

“No, I dont. I just do the daily prayer, like morning bread before work, in the room. No voice at all, it’s private. And actually if you’re concerned with sharing kitchen amenities, I can buy my own cooking utensils, it’s fine with me”.

“Oh, so you mean, you will cook? I dont want my kitchen to be messy you know, I have been keeping it clean and I want all tenant to do the same also”.

“Ofcourse I meant light cooking. In fact i dont do heavy cooking. Don’t worry I used to live in a shared HDB before and we never had issue with kicthen”.

Sebenarnya pertanyaan2 beliau agak2 aneh menurut saya. Harusnya sih kalau saya ndak makan babi, saya yang concerned donc bukan dia. Dan jujur saja, baru kali ini saya ditanyain perihal apakah saya berisik atau nggak ketika berdoa. Ada2 aja Nona yang satu itu, buy anyway saya sudah berusaha meyakinkannya. Tidak berapa lama kemudian dia menelpon,

“Yessi, OK, I will rent out the room for you lah. Please scan your employment pass and passport and send to me”

Dengan hati lega, saya lalu mengirimkan kedua dokumen tsb sebelum kemudian dia meng-SMS selang 10 menit kemudian :

“Yessi, I forgot that next Monday I will go for holiday. My boyfriend told me to rent out the room only when I am back in the beginning of July. Glekh. Saya termangu. Hello, waktu itu baru tanggal 3 Juni, jadi maksudnya saya mau stay dimana selama sebulan? Kegagalan Pertama.

HDB 2. Havelock Road, Stay with Indian-Malay Couple with twin kids, SGD 850/month

Kali ini saya janjian dengan si agent untuk ketemu di Tiong Bahru MRT pukul 5:30 sore. Pukul 5:24 dia bilang sudah ada di tempat, sementara saya masih berada di Outram Park MRT, sekitar 5 menit dari Tiong Bahru. Sesampainya di MRT Tiong Bahru, ternyata si agent sudah meninggalkan saya, tidak lagi berada di tempat. Lalu sesudah ditelepon puluhan kali, dia kasih alamat owner HDB nya sehingga saya bisa kesana langsung tanpa dia.

HDB ini adalah pasangan India-M
alaysia dengan 2 orang anak. Tidak boleh masak sama sekali, no visitor, even to chit chat over living room. Sebenarnya ini agak sulit buat saya, mana ada sih orang yang tidak punya teman yang tidak pernah berkunjung, di dunia ini? Tapi lagi2, berhubung saya yang kebelet cari tempat tinggal, ekspektasi sudah saya turunkan sedemikian rupa. Saya bilang OK dengan tempatnya, apalagi mengingat saat itu saya sudah lihat belasan HDB dan sulit sekali menemukan yang cocok. Sesudah bercengkerama dengan owner yang tampaknya langsung menyukai saya, saya pun ajak mereka untuk formalisasi kontraknya supaya saya bisa move in immediately. Tapi karena si owner sudah terikat kontrak dengan agent, jadilah saya harus berhubungan dengan agent yang sudah meninggalkan saya tadi. Ditemani Becky, Arryn dan Manda, akhirnya kami janjian untuk ketemu di Tiong Bahru Plaza. Entah bagaimana awalnya sehingga percakapan antara saya dan agent tidak closing deal. Awalnya saya tidak berkenan dengan sikap si agent. Selayaknya dia menemani saya viewing ke HDB tadi, karena in the end of the day saya harus bayar dia 1/2 nilai kontrak yakni sekitar SGD 425 untuk jasanya tersebut. Awalnya saya tidak keberatan membayar komisi tersebut, tetapi melihat sikapnya yang seenak jidat, saya jadi terpancing untuk komentar,

“Actually I mind with your ways of working. Today I just needed you to wait a lil bit longer for the viewing, but by the time I reached at the MRT, you left already”.

“I called you thousands time but you never picked up lor”

“I didn’t receive any call and I was in the MRT, what did you expect? And I texted you already saying I was about to arrive”

“Because you never picked up so I thought you wont show up lor”, dia membela diri.

“What? I was about to arrive and and I’ve called you all the way from Bugis, can you give a reason as to why you thought I’d not show up?”, saya mulai terpancing dengan nada bicaranya yang meninggi.

Melihat sikapnya yang tidak respectful sama sekali, saya jengah. Dengan nada tegas saya bilang bahwa saya keberatan membayar komisinya agent nya penuh, karena in fact dia tidak melaksanakan kewajibannya menunjukkan HDB room dan menemani saya viewing. Lalu dia pun tidak terima, tetap menginginkan komisinya penuh karena dia menganggap kalau itu salah saya. Well, sebenarnya saya tidak suka hitung2an. Tapi dalam kasus ini, saya merasa dia belum melaksanakan kewajibannya. Kami pun tidak jadi sign contract. Ownernya bolak balik menelepon minta supaya saya melupakan perihal agent yang tidak behave tersebut, tapi saya sudah terlanjur hilang mood. Mana bisa saya close the deal dengan perasaan ga rela sama agent yang ga bekerja. Kegagalan Kedua.

HDB 3. Kim Tian Road, SGD 850/Month

Dengan pedenya, saya langsung mengiyakan sebuah kamar, tinggal bareng owner, no visitor, no cooking, gara2 kamarnya terlihat oke dan bersih, gw banget deh. Saya dan ownernya ngobrol panjang lebar bersama agent nya, dan saya bilang saya suka, saya mau langsung bayar. Sampai kemudian si owner bertanya saya dari negara mana. Well, banyak teman2 yang bilang bahwa aksen English saya memang bukan aksen Indonesian, sehingga si owner kaget begitu tau bahwa saya orang Indonesia. Lantas responnya langsung berbeda : katanya dia ga bisa langsung kasih kamarnya ke saya, karena ada yang harus didiskusikan dulu.

Tanya punya tanya, si agent lantas memberitahu saya keesokan harinya kalau si owner ‘trauma’ sama orang Indonesia karena tenant terdahulu adalah orang Indonesia dan buat banyak masalah. Saya pun mengira2 masalah apa yang kira2 bisa dibawa sama tenant, ternyata cuma perihal bawa keluarga dari Indonesia, dan luggage si keluarga tenant ini ada dimana2 sehingga living room nya berantakan. Oalah…Kegagalan Ketiga.

Sampai disini rasanya saya pengen ketawa sama kekhawatiran2 tidak penting dari beberapa HDB yang saya temui. Pencarian tempat tinggal kali ini rasanya lucu saja. Semakin saya mengenal karakteristik Singaporean, rasanya :p

***

Akhirnya, sesudah cari sana sini, saya memutuskan untuk mengambil kamar di Queenstown. Tinggal bareng single Singaporean lady berusia 50an tahun, no cooking no visitor. Tapi lokasinya dekat ke kantor, bilangan Strathmore Avenue.

Awalnya saya juga nggak sreg dengan kamar ini, karena mahal dan tampak buluk. Tapi lebih dari itu, ada banyak harapan tertumpu di kamar ini. Tempatnya dekat ke kantor dan saya hanya butuh waktu sekitar 30menit untuk nyampe kantor setiap pagi. HDB nya adalah HDB lama, tapi suasana sekitar bangunan yang rada sepi dan dilingkupi rumput hijau memberi aura sebuah ‘rumah’ buat saya. Ya, setidaknya saat saya pulang kantor, tempat ini bisa memberikan rasa ‘homey’ rasa berada di rumah sendiri. Kamarnya pun punya rak buku sehingga saya bisa memajang buku2 favorit saya tanpa harus mengepaknya semua di kardus, seperti yang selama ini saya lakukan karena minim space. Terlebih dari itu, ownernya adalah seorang aktivis gereja yang tau bagaimana kehidupan pelayanan. Hampir setiap bulan beliau pergi ke negara lain buat mission trip. Well, seenggaknya saya rasa, ada banyak yang saya bisa pelajari darinya. Tiap hari Kamis ada care group di rumah ini, dimana landlord akan bawa belasan temen2 gerejanya buat menyanyikan kidung puji2an dan ibadah Saat Teduh ala gereja. Ya, lumayan untuk menambah wawasan dan keimanan 😉

Akhirnya,  seperti halnya kebiasaan Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan, saya berkeinginan untuk memperbaiki ketidaksempurnaan kamar ini. Sekarang dia sudah lebih homey, dan saya merasa ruangan berukuran 4×3.5 meter ini adalah sangkar emas saya. Tempat saya beribadah dan berkarya. Ya, semoga saja saya betah, dan semoga keberadaan saya disini membawa berkah.

So, I finally cheered to imperfection and found my new nest. Di sebuah sudut MRT lama, dimana orang2 menyebutnya :  Queenstown 😉