Ketika Sudah terlambat untuk bilang “Selamat Jalan”

Saya tidak pernah mengklasifikasikan kematian sebagai bentuk kejam dari sebuah cinta kasih Tuhan pada hamba-Nya. Hanya saja, caranya dan timing-nya kadang tidak pas, datang begitu tiba2 tanpa kata pengantar.

***

Pertemuan saya dengan Andin diawali di tahun 2009. Waktu itu, kami berada dalam grup Focus Group Discussion yang sama dari rangkaian test masuk sebuah perusahaan FMCG. Cuma saat itu saya bertemu dengan Andin. Sekali seumur hidup. Berada di grup FGD yang sama berarti sebenarnya kami bersaing untuk mendapatkan posisi yang sama, saat itu. Tapi pembawaannya yang sangat ramah dan selalu senyum adalah satu hal yang nggak bisa saya lupa, plus saya juga juga suka sekali punya teman baru. Itu saja sudah sangat cukup untuk menjadi bekal kami menjalin pertemanan.

Sehabis test saat itu, kami tukeran nomer HP dan saling add di Facebook. Sementara saya kembali ke Bandung (waktu itu saya menjelang lulus kuliah), Andin kembali ke pekerjaannya di bilangan HI, Jakarta. Kami saling menyemangati saja supaya beroleh hasil yang terbaik dari hasil test kemarin.

Tidak banyak hal yang saya tau tentang Andin. Percakapan kami sesudah selesai test saat itu teramat singkat untuk saya bisa mengetahui banyak hal tentangnya selain bahwa dia pernah kuliah di Australia dan bahwa kami sama2 suka sama Nouvelle Vague. Dia juga sempat bilang kalau saat itu dia sebenarnya sedang bekerja sebagai project controller di Grand/Mall/Plaza Indonesia dan sedang mencoba keberuntungannya dengan mengikuti test yang kami berdua ikuti saat itu.

Berbulan2 sesudah test tsb, tidak ada kabar apapun dari si perusahaan FMCG, hingga akhirnya ketika si perusahaan membuka lowongan yang sama, saya apply lagi, dan kali itu, berhasil. Saya mengabarkan pada Andin kalau saya diterima dan ditempatkan di Singapore. Dia mengucapkan selamat dan bilang suatu saat akan datang berkunjung.

Mei 2011, Andin mengabari saya kalau dia bakalan datang ke Singapore dan kami pun janjian untuk ketemuan setelah saya pulang kerja. Dengan sangat excited, waktu itu kami janjian untuk ketemuan di Orchard sambil makan malam. Tapi karena keterbatasan pulsa Indonesia untuk menghubungi saya sekalian roaming operator selulernya, dan masalah teknis lainnya, akhirnya pertemuan yang direncakan tidak terjadi. Andin cuma bisa menghubungi saya lewat Facebook jika dia sedang berada di area ber-WiFi.

Thanks to Facebook yang masih menyimpan percakapan kami.


Screen Shot 2013-12-03 at 17.01.47

Screen Shot 2013-12-03 at 17.02.13

Itulah terakhir kalinya saya berhubungan dengan Andin. Mei 2011.

***

Sore ini, Selasa, 3 Desember 2013. Jam 4-an sore, saat udara Jakarta terasa dingin karena tanahnya masih basah setelah diguyur hujan. Adik saya baru pulang dari sekolah. Saya meminta pendapatnya tentang lagu mana yang paling cocok dipakai untuk video yang baru saya buat. Sesudah si adik kasi komennya, saya upload videonya di Facebook. Seketika kemudian tiba2 pointer mouse saya mengarah ke thumbnail profile Andin. Saya klik. Scroll kebawah. Kenapa ada foto makam? Kenapa ada orang yang post “Selamat jalan adekku” ke profile nya Andin? Lalu kemudian semua postingan dibawahnya membuat saya merasa terhempas dengan airmata saya pecah seketika. Andin telah berpulang. Andin telah berpulang. Andin telah berpulang…. saya berusaha meyakinkan diri dengan apa yang saya baca : Andin meninggal karena kanker pankreas, Jumat, 29 November 2013, beberapa hari yang lalu..

Screen Shot 2013-12-03 at 17.22.17

Sampai disini saja ternyata pertemanan kami. Andin sudah pulang lebih dulu, sebelum saya menghubunginya lagi. Sebelum saya sempat mengucapkan selamat tinggal yang pantas….

“Andin, seperti percakapan kita terakhir, harusnya aku menghubungimu kembali ketika aku ditempatkan di Indonesia, seperti janjiku waktu itu. Aku tidak mau menyalahkan Jakarta yang kadang membuat warganya sulit untuk bertemu dengan kemacetan dan kesibukan, maafin aku Ndin… Aku bahkan malu untuk menyebut diriku sebagai teman, saat aku lupa bersilaturahmi dan tidak punya ide sama sekali tentang sakit yang kamu derita? Masa seumur hidup, kita cuman ketemu sekali sih Ndin? :'(

Tenang disana ya Ndin.. Istirahatlah dalam damai…”

Terlalu besar rasanya sebuah perpisahan kali ini untuk mengingatkan saya lagi akan pentingnya silaturahmi dan menjaga hubungan baik, selama kita masih punya waktu di dunia yang fana ini

***

2 thoughts on “Ketika Sudah terlambat untuk bilang “Selamat Jalan”

  1. 37degree says:

    innalillahi wainna ilaihi rojiun

Leave a Reply to 37degree Cancel reply