Untuk dia, dan Dia.

Belom seminggu yang lalu rasanya, saya cerita sama seorang teman dekat, soal kebingungan yang saya hadapi. Perasaan saya sedang diaduk2, diantara rutinitas sehari2 : pekerjaan di kantor. Mungkin, jika saya terbawa arusnya demikian saja, saya nggak akan menemukan masalah atau gejolak dalam hati. Mungkin, saya menilai semuanya terlalu memakai perasaan, tapi saya merasa tidak demikian. My heart feels something have gone wrong.

###

Tentu saja, bangun-menghabiskan waktu di kantor-pulang malam-jadi rutinitas orang2 yang kerja kantoran. Saya juga termasuk didalam himpunan ini. Dengan mindset bahwa kerja adalah ibadah, berangkat ngantor dengan ceria saja kadang nggak cukup. Di kantor, ada saja banyak kondisi yang bisa buat level keceriaan menurun, hingga sampai ke titik dimana mungkin kerjaan malah jadi sumber stres. Saya juga termasuk didalam himpunan orang2 yg kadang merasakan ini. Tapi lagi-lagi, saat merasa langkah seperti tertahan karena kerikil2 kecil, tunduk saya biasa rehat sejenak. Mencoba menyadarkan diri, bahwa ini juga adalah bagian dari proses menuju sesuatu : destiny. Lalu saya akan semangat kembali; ceria kembali; seperti batere yang baru fully recharged.

Sampai ke beberapa sore kemarin, ketika saya merasa ada sesuatu yang janggal.

Ceritanya bermula sudah sejak saya jadi project leader untuk beberapa projects yang bakalan launch di Asia. Posisi ini bukan saja meminta saya untuk keep project network on track, tapi juga urge every team member to get the work done. Tibalah saya pada satu hari, dimana saya kesal karena 1 pending particular yang jadi bottleneck dan nggak juga resolved gara2 seorang core team member. Alasanya klise menurut saya saat itu : beliau menjanjikan akan mengerjakan dan revert back dalam sehari, kemudian sesudah dikirimin reminder dan ditelepon berulang, tetap tidak ada jawaban. Saya pun gerah. Dengan nada super ketus saya berbicara kepada orang yg berposisi di India tsb, saat akhirnya beliau mengangkat telepon. Saya bilang kalau saya nggak bisa mentolerir delay di aktivitas yang seharusnya bisa dikerjakan dgn cepat, dan saya mau report hari itu juga karena task ybs sudah pending diluar standard timeline. Hati masih saja berasa panas sampai kemudian saya mendengar suara sayup2 anak laki2 menangis, kemudian si orang India berkata, “I’m really sorry for this. I will get back to you by end of today, now I need to accompany my son, he’s in hospital. I don’t have my laptop with me now, but surely I’ll send you once I have access”. GLEKH. Nggak berapa lama kemudian, saya yang mendapati diri saya seperti terperangah, tidak tau harus berucap apa. I felt sorry, for I’ve been behaving ungracefully for the sake of my project’s delivery.

Di sore yang lain, saya berada di kondisi yang nggak kalah pelik–angka Turn Over 1 negara turun drastis, record yang belom pernah terjadi sebelumnya. Saya yang di push dari atas untuk tau apa yang terjadi dengan market dalam 5 menit, semakin tertekan karena si partner yang TurnOvernya turun malah out of reach dan pasang Out of Office Responder. Di tengah tekanan sana sini, saya kemudian menerima SMS dari beliau, yang bilang bahwa beliau harus tiba2 off dari kantor karena salah satu anggota keluarga yang meninggal. Lagi2, saya speechless. Di tengah tekanan sana sini, saya jadi mengatasnamakan pekerjaan untuk tidak mentolerir ketidaksempurnaan. Perilaku saya untuk mengutamakan project delivery diatas segalanya seperti sedang dipertanyakan. Saya sadar betul, jika pekerjaan adalah ibadah, mungkin yang saya lakukan selama ini tidak sepenuhnya ibadah. Konsep ibadah sebagai sebuah pelayanan seperti bergeser maknanya dan menjadi sekedar mindset. Mindset yang saya sendiri pun kadang jadi bingung, sebelah mananya lagi bisa disebut ibadah jika pada akhirnya; perilaku saya dalam proses selama bekerja nggak lagi mencerminkan perilaku seseorang yang beribadah.

Sampai sekarang, saya belum bisa dengan yakin menggambar garis yang jelas. Dalam konteks seperti yang saya jalani sekarang, sulit rasanya menarik benang merah dari konsep ibadah (bekerja bagi Dia) dan konsep bekerja (duniawi). Kegamangan yang juga kian bertambah, ketika pagi ini saya mengantri di Rumah Sakit dengan kondisi lemah, dan atasan tetap menyuruh saya membalas requestnya secepat mungkin. Semua konsep jadi berbenturan.

Dan saya masih gamang. Inikah jalan terbaik untuk saya beribadah kepadaNya?

3 thoughts on “Untuk dia, dan Dia.

  1. Leo says:

    Hmmmmmmmmmmmmmm
    Kelihatannya pergumulannya hebat juga yah
    Menurut saya sih kerja itu salah satu bentuk ibadah tapi bukan hanya kerja saja, treat other people juga bentuk aplikasi.
    Ada orang berkata character sesseorang itu terlihat jika dia mengalami tekanan bahkan ketakutan. Siapa seseorang itu, tergantung dengan bagaimana dia menghadapi tekanan.
    Ketakutan, kemarahan, tambah capek itu sih manusiawi. Pertanyaaanya bagaimana mengontrolnya. kalo bergantung diri sendiri pastilah tidak sanggup. Sometimes the easiest answer is pray and depend on him, so he could change you, to be a better person.

  2. Koen says:

    Chiw … Serasa kamu nulis ini buat aku deh. Dia memang membuat masalah2 semakin kompleks seiring bertambahnya kedewasaan dan kearifan kita; plus kemampuan kita. Guru yang hebat, Dia. Meanwhile, just being true to yourself, lepas dari delusi2 yang membuat kita seolah ingat di mana kita berada, tetapi terus hanyut.
    Be strong, Chiw …

  3. aasb says:

    Work is a worship…. For me. Didn’t need to have all these things if u choose to be right quadrant.

Leave a Reply to aasb Cancel reply