Special Edition of Our Life : Mengheningkan Cipta

Bersenjatakan dua gelas kopi malam tadi, saya telak terjaga semalaman. Niat mau mengerjakan sebuah deadline tugas antah berantah, Pemodelan namanya. Setelah minggu kemarin tewas tak berdaya gara-gara kelenjar (lagi), hutang pada teman kelompok kian menumpuk. Maafkan keabsenan saya, untuk Dia Yang Berkehendak.

Detik-detik sepi. Sejam dua jam. Menjelang Subuh, entah darimana bulir bening itu menetes. Membasahi pipi, jatuh ke lutut saya yang ditekuk menghadap meja komputer. Saya lupa kapan terakhir kali menangis, bahkan lupa caranya. Menertawakan kesusahan dan kesedihan sudah seperti opera rutin yang menggembirakan. Sudah, diam saja, nggak usah nangis. Stok airmata sudah habis.

Lantas, apa yang saya tangisi sekarang? Astaga, hidup saya sekarang benar-benar sempurna namun tidak bersyukur. Anggota tubuh lengkap dan tidak cacat, lupa bersyukur. Bangun setiap pagi masih hidup dan bisa menghirup pagi, lupa bersyukur. Diberi kesempatan mereguk cinta yang demikian indah, lupa bersyukur. Selalu merasa kurang dan kurang. Saya benar-benar gila untuk tidak punya otak dan menganggap anugerah gratis ini akan saya nikmati selama-lamanya, dalam limit tak hingga. Sementara hidup kita adalah cetakan limited edition yang bukannya menuntut pemborosan, tapi utilisasi.

Mungkin ini alasan mengapa saya tidak posting dan kehilangan inspirasi. Tidak tau apa yang bisa ditulis, sementara begitu banyak hal luar biasa yang dihadiahkan setiap harinya. Kurang bersyukurkah saya?

Mungkin prinsip “menjalani hidup dengan fun dan menjalaninya sebisa mungkin” harus diganti. Gantikan frase kedua dengan “mensyukurinya senikmat mungkin”.

Damn.
LEGA.
Tumpahlah semua airmata itu.

Makan nasi putih tempe tahu telor oseng pakai kecap yuk?

10 thoughts on “Special Edition of Our Life : Mengheningkan Cipta

  1. raie says:

    lebih murah makan nasi pake telor saja…
    hehehe kecap atau sambal sebagai tambahan boleh lah
    hehehe

  2. Yessi Pratiwi Surya Budhi says:

    Ah, Ray.

    Kecap dan sambal masalah selera. Buat saya, tanpa kecap, semuanya terasa hambarrrrrrr.

    Hahaha.

  3. sigit says:

    hmm… kok blog ini tampak terlihat makin narsis saja ya? hmmm…..

  4. yasir says:

    sekarang kayaknya ga ada yg murah mau pake telor pun mahal..

    abis bensin aja naek jd 6000,- hiks hiks..

    ayam cobek naek ga yah harganya? huhuhu.. (-_-)

    enak tuh kalo dikecapin, pa lagi sambelnya :p

  5. tasikcoret says:

    Makan pake Kecap ABC,
    Minumnya Kopi ABC,
    Kerjaannya buat ABC (Analys Business Cost)..

    Ah, ABC lagi.. ABC lagi…
    ;p

  6. Yessi Pratiwi Surya Budhi says:

    Sebenarnya gak dimaksudkan begitu. Git. Cuma buat ilustrasi.

    Tapi kalau kelihatan begitu, Hmmm..
    Saya edit saja.

  7. Yessi Pratiwi Surya Budhi says:

    @ Yasir : pengalaman personal ini tampaknya ;p

    @ Tasik Coret : Kau ini Wan. Jangan bawa2 kerjaan ah, Wan. Apalagi nyepam. Huh.

  8. Nadya Fadila says:

    🙂

    *bingung harus komentar apa..=p

  9. zen says:

    “Nikmat tuhanmu manak lagikah yang hendak kamu dustakan?”

    *baca postinganmu, saya jadi ingat bunyi ayat itu: ayat yang diulang sebanyak 31 kali dalam satu surat*

  10. yessi pratiwi says:

    @ Nad : memang sebenarnya postingan ini bukan untuk dikomentari :))

    @ Zen : ….Dan saya nggak ngeh, itu diulang 31 kali.

Leave a Reply to yessi pratiwi Cancel reply